The Importance of Media Literacy

Only available on StudyMode
  • Pages : 14 (2942 words )
  • Download(s) : 497
  • Published : January 22, 2010
Open Document
Text Preview
Proposal penerbitan majalah
Kepel.Kom
“Anak Komunikasi Ngumpul Tak Jauh Dari Kepelnya”

Disusun sebagai pengganti Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Manajeman Media Massa

Oleh :
Maulin Ni’am
SP/21076

Jurusan Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Unversitas Gadjah Mada
Yogyakarta

Problematika

Media literasi mutlak diperlukan sebagai kemampuan dasar berpikir kritis untuk hidup di abad informasi. Tiap hari kita diterpa ribuan informasi. Kita harus selektif dalam memilih informasi mana yang akan kita respon. Karena batas antara informasi yang benar dan salah, valid dan invalid semakin kabur. Kita juga harus cerdas dalam menggunakan informasi, belum tentu informasi yang kita ambil akan membuat hidup kita semakin baik meskipun informasi tersebut benar.

Ironisnya, pesatnya pertumbuhan media di Indonesia tidak dibarengi dengan meningkatnya tingkat literasi media masyarakat kita. Budaya melek media harus dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya untuk para orang tua, guru sekolah, dosen, tokoh agama atau para pembuat kebijakan, budaya melek media, sikap kritis dalam mengkonsumsi media justru harus dimiliki oleh golongan yang secara langsung menjadi penikmat dan sasaran utama media yaitu anak-anak dan remaja termasuk mahasiswa.

Literasi media tidak melihat latar pendidikan seseorang. Karena literasi media sebenarnya cara pandang dari mana sesorang membuka diri terhadap media dan memaknai pesan yang ia terima dari media. Potter (2001: 7) mengatakan bahwa literasi media bukanlah sebuah kategori, layaknya status, apakah kita termasuk di dalamnya atau tidak. Potter melanjutkan bahwa literasi media adalah sebuah rangkaian kesatuan (continuum). Ia menganalogikan literasi media dengan sebuah termometer yang mana terdapat derajat untuk menunjukkan tingkatan atau kualitas.

Dengan tanpa mengesampingkan sederetan teori dan metode penelitian media, sebenarnya literasi media hanya masalah kebiasaan saja. Kebiasaan menonton dan mengkonsumsi media idealnya diiringi dengan pembiasaan untuk mencermati, menganalisis maksud dari tayangan media tersebut. Meskipun seseorang memiliki kemampuan atau pengetahuan yang memadai untuk menjadi media-watcher, belum tentu ia mau untuk mengkritisi media. Hal yang menarik untuk dijadikan renungan adalah budaya literasi media di kalangan mahasiswa, khususnya mahasiswa Ilmu Komunikasi. Dikatakan menarik karena fokus studi mereka adalah media. Sejak semester awal hingga akhir, mereka mendapatkan banyak informasi tentang media dan segala aspeknya. Mereka pula yang secara intens mengamati, mengkaji dan menemukan fakta tentang media. Sayangnya, tingkat literasi media yang mereka miliki hanya disimpan untuk diri mereka sendiri. Mereka tahu bahwa banyak hal yang bisa dan harus mereka kritisi dari media, tetapi yang terjadi justru sikap pembiaran. Bukti konkretnya adalah masih minimnya, untuk tidak mengatakan tidak ada, tulisan mahasiswa komunikasi tentang media di media massa. Rubrik semacam suara mahasiswa di harian Kedaulatan Rakyat, Prokon Aktivis di Jawa Pos dan rubrik sejenis lainnya lebih banyak diisi oleh mahasiswa dari ilmu non-sosial.

Mungkin karena mereka berada dalam lingkungan sama dan menganggap yang lain juga tahu apa ia ketahui. Sehingga mahasiswa Komunikasi merasa tidak perlu menyampaikan sikap kritis mereka atas media, alih-alih menuliskan gagasan mereka ke media.

Pembiaran yang terjadi berulang kali membuat mahasiswa menganggap pesan-pesan negatif di media adalah hal biasa dan lumrah. Pada akhirnya yang terjadi adalah berkurangnya tingkat sensitivitas (desensitization) terhadap pesan negatif media. Inilah yang kemudian menjadi sebab hilangnya nalar kritis mahasiswa atas fenomena sosial yang terjadi di sekelilingnya. Kenyataan berbicara bahwa mahasiswa tidak terbiasa melakukan komunikasi tertulis. Lebih mudah menyampaikan informasi melalui lisan. Padahal menulis, khususnya karya ilmiah, adalah aktivitas yang tidak bisa dipisahkan penyandang...
tracking img