Speech Act

Only available on StudyMode
  • Pages : 16 (4318 words )
  • Download(s) : 755
  • Published : January 7, 2011
Open Document
Text Preview
STRATEGI PERMINTAAN DALAM BAHASA INDONESIA
(Kajian Komunikasi Lintas Budaya)

Ike Revita
Universitas Andalas

Abstract

This study is an atempt to observe the request strategies used in Bahasa Indonesia( A Cross Cultural Study). There are three problems analysed, namely (1) the kinds of strategies used, (2) the sequence of the strategies, and (3) the factors influencing the choice of the strategy. The data are taken from the Indonesian conversation among the speakers-- from differently cultural backgrounds-- boarded in a boarding house in Yogyakarta. Having refered to the concept proposed by Blum-Kulka, it is found that there are 11 strategies used to request in bahasa Indonesia, (1) requesting, (2) questioning, (3) greeting, (4) giving information, (5) suggesting, (6) referring to O3, (7) offering, (8) quoting, (9) complaining, (10) using if conditional, and (11) satirizing. Each of these strategies is sometimes used isolatedly but mostly in sequence, namely (1) 2 in 1, (2) 3 in 1, and (3) 4 in 1. The choice of the strategy is influenced by the participants’ culture and the respect toward the hearers.

1. Pendahuluan
Salah satu fungsi utama bahasa adalah untuk menjaga keberlangsungan hubungan antara para penggunanya. (Wardaugh, 1996:233). Sejajar dengan ini, bahasa dianalogikan sebagai sebuah alat dengan kaidah-kaidah yang sangat rumit dan dipergunakan untuk mengatur bagaimana seseorang bertutur agar hubungan interpersonalnya senantiasa terpelihara (Wijana, 2004:1). Kaidah yang mengatur tatacara berbahasa ini berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya atau dari satu bahasa ke bahasa lainnya. Dengan demikian, ketika terjadi interaksi, benturan-benturan berpotensi terjadi karena disebabkan oleh faktor perbedaan ini. Salah satu peristiwa tutur yang menuntut adanya kemampuan yang baik dalam bertutur adalah tatkala melakukan permintaan. Permintaan merupakan suatu tuturan yang di dalamnya terkandung tindakan agar mitra tutur berbuat sesuai dengan maksud tuturan (Revita, 2005:73). Dengan kata lain, maksud permintaan menjadi dasar mitra tutur dalam bertindak. Oleh karena itu, sebuah permintaan dapat menyebabkan mitra tutur menjadi kehilangan muka karena mengurangi kebebasannya dalam bertindak (Brown and Levinson, 1987: 129). Keterbatasan mitra tutur dalam bertindak akan semakin jelas bila bentuk tuturan yang dipilih tidak tepat, apalagi bila ditujukan terhadap mitra tutur yang berlatar belakang budaya berbeda. Hal ini dapat menimbulkan tejadinya konflik karena bisa jadi dalam suatu budaya sebuah permintaan dianggap lazim, sementara budaya lain menilainya sangat tidak diperbolehkan. Misalnya, dalam budaya Minangkabau, permintaan dinilai sopan bila dilakukan secara implisit. Akan lebih baik bila didahului oleh pra-permintaan, seperti pertanyaan atau diakhiri dengan pasca-permintaan, seperti alasan. Artinya, semakin panjang tuturan yang mendahului inti permintaan, semakin sopan nilai tuturan itu. Beberapa daerah tertentu justru sebaliknya, sebuah permintaan diharapkan disampaikan secara eksplisit tanpa ada tedeng aling-aling (Gunarwan, 1997:1). Untuk meminimalisir kehilangan muka mitra tutur dalam tindak tutur permintaan, diperlukan strategi yang tepat (Felix-Brasdefer, 2005:66). Strategi itu dapat dilihat dari cara yang digunakan atau pun langkah-langkah yang dipilih sehingga maksud permintaan ditangkap oleh mitra tutur. Misalnya, ketika ingin meminjam setrika, seorang penutur dapat mengatakan:

1) Mbak Ike, pinjam setrika!
2) A. Maria ada nggak ya mbak? B. Aku mau nyetrika. C.Biasanya aku minjam setrika ke dia. 3) A. Mbak Ike punya setrika? B. Lagi di pakai ndak? C.Boleh aku minjam, Mbak?

Permintaan (1) – (3) dilakukan dengan tiga cara yang berbeda (ujaran yang dihitamkan adalah inti dari permintaan), yaitu (1) meminta langsung, (2) memberi informasi, dan (3) bertanya. Cara (1) tidak didahului atau diikuti oleh ujaran lain, sedangkan cara (2)...
tracking img