Southwest Analysis

Only available on StudyMode
  • Pages : 15 (2949 words )
  • Download(s) : 80
  • Published : October 21, 2009
Open Document
Text Preview
FINANCIAL PERFORMANCE
SOUTHWEST AIRLINE AS A LCC COMPANY

A. PENDAHULUAN

• Latar Belakang

Southwest Airlines (NYSE:LUV) merupakan perusahaan penerbangan LCC terbesar ketujuh berdasarkan passanger carried. Southwest Airlines mempunyai sturktur biaya yang rendah didapatkan dari komponen berikut: o Hanya melayani rute pendek (biasanya kurang dari 750 mil atau 1200 km) o Menggunakan rute yang padat atau penerbangan dengan frekuensi tinggi o Menggunakan airport kelas kedua.

o Menggunakan standar pesawat satu jenis yaitu Boeing 737, yang mana persediaan suku cadang dan biaya training bisa ditekan o Melakukan hedging harga bahan bakar
Meskipun bergerak di bidang LCC perusahaan bisa menghasilkan profit setiap tahun sejak 1973 ( suatu prestasi yang tidak bisa dipenuhi oleh perusahaan penerbangan lain ). Pada tahun 1980 dan pada tahun 1990 Southwest Airlines mengumumkan telah meraih satu milyar dollar dalam total pendapatan. Perusahaan tersebut membuat variasi perubahan dalam operationalnya pada tahun 1990 dalam pemesanan sebagai upaya meningkatkan efisiensi dalam pelayanannya. Perusahaan mencatat revenue $4,562,616 di tahun 1999, mengalami peningkatan 19.30% pada tahun 2000, mengalami penurunan 1.67% pada tahun 2001 dan 0.60% pada tahun 2002 pasca tragedi 11 September. Pada tahun 2003 perusahaan telah mampu meningkatkan perolehan revenue sebesar 7.52%. Revenue perusahaan terus mengalami peningkatan hingga mencapai $9,861,000 pada tahun 2007. Perusahaan memperoleh semua revenuenya dari pasar AS. Pertumbuhan pendapatan perusahaan didominasi oleh peningkatan pendapatan segmen passenger. Peningkatan pendapatan segmen passenger terutama dalam kaitan dengan peningkatan kapasitas, peningkatan RPM yield, dan peningkatan load factor. Sebagai tambahan, pertumbuhan pendapatan didukung oleh pertumbuhan pendapatan freight dan cargo revenues. Pertumbuhan pendapatan yang kuat membuat operating income perusahaan pada tahun 1999 sebesar $781,576 meningkat 30.65% pada tahun 2000. Perusahaan juga mampu memulihkan keadaan setelah kejadian 11 September yang berakibat pada penurunan operating income sebesar 38.19% pada tahun 2001 dan 33.87% pada tahun 2002. perusahaan mampu meningkatkan operating incomnya sebesar 15.73% pada tahun 2003. Tahun 2007 operating income perusahaan mencapai $791,000. Selain pada pendapatannya yang kuat, SWA juga memiliki retun yang kuat. Dia mampu meningkatkan returnsnya kembali pasca terjadinya tragedi 11 September. Returns yang kuat mencerminkan kemampuan manajemen untuk mengelola equitynya untuk menghasilkan keuntungan, yang mana hal tersebut bisa meningkatkan kepercayaan investor. Selain itu jika dibandingkan dengan S&P 500 dan S&P Transportasi, total return SWA lebih tinggi selama 5 tahun berturut-turut.

B. LANDASAN TEORI

Analisis terhadap kinerja sebuah perusahaan/organisasi dengan berdasarkan laporan keuangan perlu adanya framework dalam analisis laporan keuangan. Pendekatan yang perlu dipertimbangkan adalah top-down approach. Alasan penggunaan pendekatan ini adalah karena perusahaan/organisasi sebagai sub system dari system yang lebih besar, akan terpengaruh dengan apa yang terjadi dalam system.

Langkah-langkah dalam Analisis
Analisis berdasar pendekatan top-down approach dengan urutan sebagai berikut: 1. Analisis terhadap ekonomi global dan makro ekonomi
2. Analsisi terhadap industri di mana perusahaan berada
3. Analisis terhadap perusahaan secara spesisfik dalam akuntansi dan keuangan, dan hal-hal yang terkait. Penggunaan pendekatan ini dilakukan sesuai dengan proses bisnis yang terjadi pada suatu perusahaan. Selain proses bisnis, Foster (1986) memberikan tambahan argument untuk melakukan analisis dengan pendekatan tob down. Foster menunjukkan faktor-faktor yang mempengaruhi angka-angka yang ditunjukkan dalam sebuah laporan keuangan. Faktor tersebut antara lain seperti ekonomi, industri...
tracking img