Peran Parpol Dlm Demokrasi

Only available on StudyMode
  • Pages : 7 (2173 words )
  • Download(s) : 999
  • Published : November 24, 2010
Open Document
Text Preview
PERAN PARPOL DALAM DEMOKRASI DAN PEMENUHAN KEBUTUHAN RAKYAT
Oleh: Asep Nurjaman

Pendahuluan
Setelah lengser Presiden Soeharto proses demokratisasi berkembang pesat seiring dengan reformasi yang terus dilakukan dari tahun 1988 sampai sekarang. Hal yang paling menarik adalah reformasi di bidang kepartaian, dimana selama Orde Baru partai dibatasi hanya tiga partai yaitu partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Golkar, dan partai Demokrasi Indonesia. Pasca Orde Baru (era reformasi), partai peserta pemilu diberi kebebasan sepanjang memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Hampir 140 partai lebih terdaftar setelah tujuh bulan Presiden Habibie berkuasa, dan kemudian hanya 48 partai yang dapat ikut dalam pemilu Juni 1999. Dari ke 48 partai yang ikut dalam pemilu, hanya 21 partai saja yang mendapatkan kursi di Parlemen (DPR). Dari 21 partai yang mendapatkan kursi di Parlemen, hanya ada enam partai saja yang mendapatkan suara minimal 3 % yaitu partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Golkar, Partai Kebangkitan bangsa (PKB), partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Bulan Bintang (PBB). Sementara ke 42 partai tidak dapat mememenuhi batas batas minimal perolehan suara sehingga mereka harus meleburkan diri dengan partai lain atau membuat partai baru. Namun demikian, munculnya beragam partai baru belum diikuti dengan kinerja partai politik yang baik. Hal ini ditunjukan dengan tidak berjalannya fungsi organisasi, dimana partai politik hanya dikendalikan oleh sekelompok elit parpol baik yang ada di pusat maupun di daerah. Kondisi keparpolan di Indonesia seperti ini, juga diungkapkan oleh Grayson Lloyd dan Shannon Smith: …..most of the major parties are not, to quote the 1999 statute, ‘in the hand of the people’ but rather are controlled by small numbers of elites, both at the national and local levels. Major parties tend to have poor internal communications: branches generally receive scant information about policy issues or higher-level decision making, and there is little consultation with rank and file members on such matters. Branch-level activity in most parties has slumped since the last election, promting one senior advisor of a major party to observe wryly that hers was ‘just a five-yearly party’ that only came to life for quinquennial elections” (Grayson Lloyd dan Shannon Smith, 2001) Kondisi tersebut diatas ditenggarai telah mengakibatkan terjadinya pergeseran politik dalam pemilu 2004, dan berbagai analisis yang dilakukan oleh berbagai pakar menyebutkan bahwa dalam masyarakat pemilih telah terjadi kekecewaan terhadap kinerja dari partai tersebut. Kondisi ini berujung pada menurunnya perolehan suara beberapa partai-partai besar yang lulus electoral threshold. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang dalam pemilu 1999 memperoleh sekitar 33,67 %, dalam pemilu 2004 mengalami penurunan yang cukup drastis yaitu menjadi 19,58 %. Yang juga diikuti oleh Partai Persatuan Pembangunan dari 10, 72% menjadi 8,32% dan Partai Amanat Nasional dari 7,12% menjadi 6,47%. Namun demikian secara umum partai-partai yang berbasis nasionalis tetap mendominasi dalam pemilihan umum baik pada pemilu 1999 maupun 2004. Kondisi ini hampir mirip dengan pemilu

demokratis pertama tahun 1995, dimana ada empat partai besar yang berhasil mendominasi dalam pemilu yaitu PNI 22,3 % suara, Masyumi 20,9% suara, NU 18,4 % suara, dan PKI 16,4 % suara ternyata suara mayoritas dipegang oleh PNI yang nasionalis (Alfian, 1973). Menurut Riswanda Imawan (2004), perolehan suara partai-partai tersebut sangat ditentukan oleh tiga faktor baru yang muncul dalam pemilu 2004: Civic disengagement, swing voters, dan spilt voting. Civic disengagement adalah kemampuan rakyat mengambil jarak dengan proses politik, sehingga mampu mereorientasi konsep dari kedaulatan negara menjadi kedaulatan rakyat. Swing votes, adalah suara pindah dari satu ke lain partai. Spilt voting adalah pola memberi suara yang tidak hanya kesatu...
tracking img