Tanggal pengumuman atas laba (earning announcement) adalah tanggal peristiwa info akuntansi masuk ke bursa (t=0) -> peristiwa pelepasan lewat public Kita mengukur reaksi pasar sebelum dan sesudah tanggal pengumuman atas laba (event period after and event period before) Sedangkan pengukuran perubahan harga di lakukan di seputar tanggal tersebut (window period) Di dalam pasar, reaksi pasar terbagi menjadi 2, yaitu reaksi harga dan reaksi volume (volume return yang diperdagangkan) Reaksi Harga terbagi menjadi CP dan return. Return sendiri terbagi menjadi Actual Return (AR), Market Return, dan Abonormal Return. Abnormal Return ternagi lagi menjadi Cummulative Abnormal Return (CAR) dan Acccumulative Abnormal Return (AAR).

CP

Reaksi HargaActual Return

Reaksi PasarReturnMarket ReturnCAR

Abnormal Return

AAR

Reaksi Volume

1. Actual Return = CPit – CP it-1

(Rit)CPit-1

CP = Closing Price

2. Market Return = IHSGt – IHSG t-1

IHSG t-1

3. Abnormal Return = Rit – Rmt

CAR = t=-55ARit

Pada emiten :

Laba yang tersedia bagi pemegang saham (residual income) :

EPS = NI / NoSO

NoSO = Number of Shared Outstanding

Laba kejutan adalah perbandingan laba tahun ini dengan laba tahun lalu. Laba kejutan = (laba tahun ini – laba tahun lalu) / laba tahun lalu

Kesimpulan sementara:

bagaimana pasar mereaksi pengumuman laba melalui reaksi harga yang diukur melalui CAR selama window period. CAR = a + b1 . UE + b2 . RT + … (1)

Return tahunan ( closing prize 31 des – 1 jan)

Faktor yang mempengaruhi CAR

UE= ERC

ERC α = β0 + β1 . RL + β12 +….+∑ (2)

Variabel utama = Reporting Lag (selisih antara preliminary lag dengan total lag) Total Lag diukur dengan 3 cara :

* Tanggal penyerahan Laporan Keuangan emiten ke BAPEPAM

* Tanggal pencatatan Laporan Keuangan di BAPEPAM

* Tanggal pengumpulan Laporan Keuangan di BAPEPAM

Teori untuk menjelaskan RL ke ERC ada 2, yaitu :

* Signaling Theory

* Decision Usefullness Theory (Efficient Market Hipotesis Theory) Efficient -> Reaksi pasar lewat harga lebih cocok ketika pasar adalah strong firm Volume -> Reaksi pasar lewat harga lebih cocok ketika pasar adalah semi strong firm

Signaling Theory :

berita baik (good news) ingin cepat di announce,, sedangkan berita buruk (bad news) pasti ingin ditunda / diperlambat. Kalau manager / agen menyerahkan publikasi ke BAPEPAM cepat (RL pendek), kita bisa memprediksi bahwa kualitas laba yang dilaporkan tinggi. Signaling dianggao oasar segera bereaksi merespon announcement lewat pengukuran CAR di windows. Kekurangan signaling theory ini adalah tidak cukup bukti secara statistic bahwa signaling theory bekerja, tapi memang secara tanda signaling theory ini bekerja. Dari Sumber Lain :

http://joernalakuntansi.wordpress.com/2009/08/15/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-koefisien-respon-laba-akuntansi/ Faktor-faktor yang Mempengaruhi Koefisien Respon Laba Akuntansi Risiko perusahaan

Kothari dan Zimmerman (1995) menyatakan bahwa earnings response coefficent (ERC) adalah fungsi terbalik dari risiko sistematis dan dalam berbagai model, terdapat hubungan empiris antara risiko dan variabel laba. Saham perusahaan yang rendah resikonya akan mempunyai ERC yang tinggi, demikian juga sebaliknya. Jika faktor risiko ini tidak dipertimbangkan dalam model, maka akan terjadi bias karena terdapat variabel yang berhubungan namun diabaikan. Collins dan Kothari (1989) serta Easton dan Zmijewski (1989) memprediksi variasi cross-sectional ERC berhubungan negatif dengan risiko sistematis perusahaan. Sedangkan Barth et al (1998) menggunakan volatilitas imbal hasil saham sebagai proksi risiko perusahaan. Volatilitas imbal hasil diukur dengan standar deviasi imbal hasil saham enam bulan sebelumnya. Temuan Barth et al (1998) menunjukkan bahwa koefisien inkremental nilai buku ekuitas (laba) adalah positif (negatif) untuk perusahaan-perusahaan yang volatilitasnya tinggi. Koefisien inkremental laba...