Cigarettes: the Social Culture Context in Indonesia

Only available on StudyMode
  • Pages : 9 (2695 words )
  • Download(s) : 630
  • Published : February 10, 2011
Open Document
Text Preview
PEMBATASAN ROKOK KRETEK DALAM KONTEKS SOSIAL BUDAYA

Pendahuluan

Rokok telah menjadi perdebatan publik sejak lama. Ada pihak yang menentang, ada juga yang mandukung keberadaannya. Bagi perokok, keberadaan rokok tidak dapat lepas dari kehidupannya. Juga petani tembakau dan cengkeh atau para buruh pabrik. Mereka sangat bergantung pada rokok. Pihak yang menentang selalu menggunakan dalih kesehatan. Tidak dapat dipungkiri memang, rokok sangat mengganggu kesehatan, baik bagi perokok itu sendiri maupun bagi masyarakat di sekitarnya yang sering disebut perokok pasif. Sejauh ini, kelompok antirokok lantang menyuarakan tentang keganasan asap rokok. Dalam peluncuran buku Tiada Kata Menyerah, yang berkisah tentang 20 tahun Yayasan Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok, di Menteng, Jakarta misalnya, dinyatakan bahwa bahaya "nikotinisme" bahkan melampaui naziisme dan komunisme. Rokok memang menjadi sebuah dilema. Beberapa waktu lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram merokok bagi wanita hamil, remaja dan anak-anak, serta merokok di tempat umum. Fatwa ini dipertegas oleh organisasi kemasyarakatan Muhammadiyah yang mengharamkan rokok untuk kondisi apapun. Sekali lagi, fatwa ini kemudian mendapatkan dukungan sekaligus penolakan dari berbagai kelompok masyarakat. Apalagi, belakangan diketahui bahwa Muhammadiyah mendapatkan kucuran dana dari Bloomberg Initiative sebesar Rp3,6 milyar agar mengeluarkan fatwa haram rokok ini (detikcom, 13/03/2010). Bloomberg Initiative merupakan organisasi yang mendukung gerakan antirokok termasuk di Indonesia. Fatwa ini dinilai tidak independen. Pembatasan rokok di Indonesia secara resmi dilegalkan melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 81/1999 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan, yang kemudian diubah menjadi PP No. 19/2003, sudah lebih dahulu mengatur tentang larangan merokok di tempat-tempat umum. Sayangnya, PP tersebut tidak memberikan sanksi. PP tersebut malah memerintahkan agar setiap Pemerintah Daerah di Indonesia membuat Perda tersendiri tentang pembatasan rokok ini. Selain itu, pada tahun 2003, larangan iklan rokok di televisi Indonesia berlaku sejak pukul 17.00 - 21.30. Pada tahun 2005, Gubernur DKI Jakarta mengeluarkan Perda No. 25 tentang Larangan Merokok di Tempat Umum. Terakhir, isu kuat mengenai pembatasan rokok ini ditandai dengan adanya RPP tentang Pengamanan Produk Tembakau Sebagai Zat Adiktif Bagi Kesehatan. Memang pemerintah seakan tidak berani secara tegas melarang rokok karena adanya fakta tentang tentang industri rokok nasional. Sektor rokok menyumbang sekitar 2,45 persen dari total produk domestik bruto (PDB), atau Rp130 triliun dari Rp5.300 triliun. Sedangkan impor tembakau kering menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) masih tinggi mencapai 98.000 juta dolar AS. Dari sektor APBN, pada tahun 2010 ini cukai rokok ditargetkan menyumbang Rp55,78 triliun atau 5,5 persen dari anggaran penerimaan negara. Dari sisi ketenagakerjaan Industri rokok kretek (mesin dan linting) menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 200 ribu jiwa dan tak langsung tak kurang dari 5 juta tenaga kerja tak langsung. Di balik polemik tersebut, ada juga satu masalah yang serius, yakni ketiadaan solusi praktis kemana nasib petani, buruh tani dan tenaga kerja yang berhubungan dengan tembakau dan rokok. Masalah ekonomi adalah perkara yang rumit. Rantai produksi dalam tembakau bukan hanya terdiri dari pabrik-pabrik rokok, melainkan juga kaum buruh, petani tembakau dan cengkeh, para penjual baik penjual besar maupun kecil, pengusaha dan pekerja di biro iklan, media massa yang membutuhkan iklan, serta berbagai kegiatan masyarakat yang juga membutuhkan berbagai kucuran dana dari bisnis ini. Selain itu, kita harus melihat dengan awas lagi terutama di dalam dimensi politik (yang tentu saja ada hubungannya dengan persoalan ekonomi) menyimpan persoalan kedaulatan bangsa. Dalam konteks ekonomi internasional, bukanlah sesuatu yang mustahil dominasi kekuatan kapitalis juga...
tracking img