Analisis Kinerja Reksa Dana Saham Selama Masa Perubahan Kondisi Global Tahun 2008-2009 Dengan Menggunakan Metode Sharpe Treynor Dan Jensen

Only available on StudyMode
  • Pages : 35 (8649 words )
  • Download(s) : 525
  • Published : May 5, 2012
Open Document
Text Preview
ANALISIS KINERJA REKSA DANA SAHAM SELAMA MASA PERUBAHAN KONDISI GLOBAL TAHUN 2008-2009 DENGAN MENGGUNAKAN METODE SHARPE TREYNOR DAN JENSEN

Edwin
Carunia M. Firdausy

Abstract: This research was done to get any information how much level of return, total risk and the market risk from stock mutual funds product and also to evaluate the performance of some stock mutual funds product at Indonesia for the time period from January 2008 until March 2009. Its purpose was to inform the investor which stock mutual funds deserved to be chosen by measurement using the Sharpe’s Ratio, Treynor’s Ratio and Jensen’s Alpha. At the first period of measurement, the ratio shows a negative return and at the second period is getting better by recording a positive value at the ratio.At the third period or July 2009 until September 2009, The performance from the stock mutual funds product having their deep level at the third period which the measurement by using Sharpe’s Ratio shows that the best performance at this period which is Schroder Dana Istimewa got -24.3298%. At the fifth period or January 2009 until March 2009, These fallen performance got their revival. It could be seen that the best five performance have recorded their Sharpe’s Ratio above 19 %. The measurement by using the Treyno’s Ratio and Jensen’s Alpha doesn’t affect the rank of the best performance stock mutual funds which is measured by the Sharpe’s Ratio.

Keywords: Mutual Funds, Sharpe Treynor Method, Jensen Method

PENDAHULUAN

Setelah krisis besar yang menimpa bangsa Indonesia pada tahun 1997-1998, Perekonomian negara Indonesia mulai menemui titik terang tentang adanya tanda-tanda kebangkitan mulai awal tahun 2000 an. Hal ini dapat dilihat dari membaiknya kinerja beberapa faktor perekonomian di Indonesia seperti yang bisa kita lihat pada menurunnya tingkat suku bunga dan menguatnya nilai tukar mata uang rupiah terhadap dollar AS dan juga dengan menguatnya nilai dari Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG) yang bisa kita sebut sebagai sample /gambaran kecil yang melambangkan tingkat pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Walaupun kita tahu bahwa sebenarnya masih cukup sedikit orang di Indonesia yang berinvestasi dalam pasar modal maupun pasar uang. Tahun 2008 dipandang sebagai tahun yang penuh dengan antiklimaks bagi dunia finansial baik di Indonesia maupun global setelah terjadinya beragam peristiwa yang tidak pernah terjadi dalam lima puluh tahun terakhir. Hal ini mulai dapat dilihat pada pertengahan tahun 2008 dimana harga minyak dunia mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah dunia yaitu seharga $ 143 / barrel. Hal ini bisa menunjukkan bahwa permintaaan minyak sedang mengalami puncaknya dikarenakan kegiatan ekonomi yang terus meningkat, hal ini disusul juga dengan melambungnya nilai indeks di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Namun pada penghujung tahun 2008, dimulai dari krisis kredit perumahan (subprime mortage) yang menimpa negara adikuasa Amerika Serikat. Terjadi suatu badai krisis global yang menghantam semua negara tanpa terkecuali baik negara maju maupun negara berkembang. Hampir di semua negara terjadi penurunan kegiatan ekonomi. Hal ini dapat dilihat dari anjloknya harga indeks pasar modal dari setiap negara baik mulai dari pasar besar seperti Dow Jones, NASDAQ, sampai indeks saham di negara-negara Asia seperti Indonesia. Harga minyak dunia pun setali tiga uang dengan nilai indeks dunia, setelah mencatatkan harga puncak pada $143 saat pertengahan tahun, harga minyak dunia menjadi dibawah $50 pada penghujung tahun 2008. hal ini dapat melambangkan turunnya permintaan dunia terhadap minyak mentah yang diakibatkan menurunnya kegiatan ekonomi di seluruh dunia. Untuk mencegah penurunan ini setiap Bank Sentral yang mana bertindak sebagai otoritas moneter mulai dari negara maju sampai negara berkembang berlomba-lomba untuk menurunkan tingkat suku bunga. Bank Indonesia (BI), Bank Sentral Republik Indonesia juga tidak mau ketinggalan dengan ikut menurunkan...
tracking img